Sekitar sepuluh tahun lalu, seorang nasabah menelepon saya dengan kabar bahagia: istrinya baru melahirkan.
“Bang, sekalian datang ya. Saya mau urus asuransi buat anak saya.”
Saya datang ke rumah sakit, membesuk, ikut senang melihat bayinya. Kami lalu ngobrol soal proteksi untuk si kecil. Saya jelaskan bahwa pengajuan asuransi untuk bayi baru bisa dilakukan setelah umurnya satu bulan. Malam itu kami sepakat soal apa yang dibutuhkan, lalu saya pulang.
Telepon tengah malam
Tengah malam, telepon saya berbunyi lagi. Kali ini bukan kabar bahagia.
Nasabah saya, sang ayah yang beberapa jam sebelumnya masih tersenyum di kamar bersalin, masuk rumah sakit. Usus buntunya hampir pecah. Dokter memutuskan operasi darurat malam itu juga, dengan metode laparoskopi.
Biayanya sekitar Rp78 juta. Untungnya, dia sudah punya asuransi kesehatan.
Yang saya pikirkan malam itu
Dalam perjalanan, saya kepikiran satu hal.
Kalau saya bukan agen asuransi, malam itu yang bisa saya lakukan hanya membesuk, paling-paling membawa buah atau bingkisan seperti kerabat pada umumnya.
Tapi karena saya agen, dan bertahun-tahun sebelumnya saya pernah duduk bersama dia menjelaskan kenapa asuransi itu penting, malam itu saya bisa ikut menanggung beban yang jauh lebih besar dari sekeranjang buah: biaya operasi Rp78 juta, di malam yang sama dengan kelahiran anaknya.
Di titik itu saya sangat bersyukur menjadi agen asuransi. Sejak malam itu saya makin mantap menjalankan pekerjaan ini.
Pelajaran untuk Anda
Risiko tidak menunggu waktu yang pas. Malam itu satu keluarga mengalami hari paling bahagia dan paling menegangkan sekaligus.
Proteksi tidak bisa dibeli saat sudah dibutuhkan. Ia harus disiapkan saat semuanya masih baik-baik saja.
Kalau Anda ingin mengecek apakah keluarga Anda sudah terlindungi dengan tepat, chat saya di WhatsApp. Boleh tanya dulu.
