Skip to main content

Beberapa tahun lalu, seorang pemilik usaha membelikan asuransi untuk karyawannya. Tujuannya mulia: kalau karyawannya meninggal atau terkena sakit kritis, keluarganya menerima santunan yang cukup besar. Preminya dibayar perusahaan, bukan karyawan.

Di tahun keempat, pemilik usaha itu menghubungi saya: “Bro, karyawan-karyawan saya ingin tahu asuransinya seperti apa. Bisa tolong jelaskan?”

Tentu saya datang. Menjelaskan seperti itu memang bagian dari tugas saya.

Permintaan yang tulus

Setelah saya jelaskan, salah satu karyawan berkata:

“Pak, saya bersyukur sekali dapat asuransi ini. Tapi saya kepikiran anak saya. Buat saya, anak dulu yang penting. Makan saja saya belakangan, yang penting anak dan istri senang dulu. Bisa nggak asuransinya dipindah untuk anak saya?”

Permintaannya tulus, dan itu yang membuat saya ingin menjelaskannya pelan-pelan.

Siapa yang menerima manfaatnya?

Saya bertanya: “Kalau anakmu yang diasuransikan, lalu terjadi sesuatu pada anakmu, siapa yang menerima santunannya?”

“Saya, Pak.”

“Kalau kamu yang diasuransikan, lalu terjadi sesuatu padamu, siapa yang menerima?”

“Anak dan istri saya.”

Dia terdiam sebentar. Lalu dia paham sendiri: kalau benar sayang anak, yang harus dilindungi lebih dulu justru dirinya, karena dialah pencari nafkah keluarga.

Pencari nafkah dulu, baru yang lain

Pencari nafkah adalah sumber penghasilan keluarga: untuk makan, sekolah, dan rumah. Kalau dia sakit berat, cacat, atau meninggal, penghasilan itu berhenti. Tabungan akan terkuras, sementara anak belum bisa bekerja.

Almarhum bapak saya pernah bercerita tentang petani di kampungnya. Di meja makan, sang bapak biasanya mendapat porsi paling banyak. Waktu kecil saya heran. Kata bapak saya, “Karena besok pagi dia yang mencangkul di sawah. Dia harus kuat, supaya keluarganya bisa makan.”

Di pesawat juga sama. Pramugari selalu berpesan: kalau masker oksigen turun, pasang untuk diri sendiri dulu, baru bantu anak. Bukan karena egois, tapi supaya Anda tetap mampu menolong.

Urutannya

Kalau ingin melindungi keluarga, urutan yang saya sarankan:

  1. Pencari nafkah lebih dulu.
  2. Pasangan, terutama kalau ikut bekerja. Dua penghasilan yang hilang satu tetap membuat keluarga pincang.
  3. Anak.

Sayang keluarga artinya memastikan Anda tetap bisa menjaga mereka, apa pun yang terjadi.

Kalau Anda ingin mengecek apakah urutan proteksi keluarga Anda sudah tepat, chat saya di WhatsApp. Boleh tanya dulu.

Chat WhatsApp Malsiaf

Muhamad Malsiaf